Beranda > Dari Dosen, Filsafat Hukum > Wrongful Life And Wrongful Birth

Wrongful Life And Wrongful Birth

WRONGFUL LIFE AND WRONGFUL BIRTH

(Melanggar Hukum Hidup dan Melanggar Hukum Lahir)

Berman v. Allan

  1. Permasalahaan mendasar bagi hukum ganti rugi adalah bahwa penggugat menderita kerugian. Namun apakah hidupnya seseorang adalah kerugian?.
  2. Kasus ini diajukan oleh Paul dan Shirley Berman melawan Ronald Allan dan Michael Attardi.
  3. Kasus ini dimulai dengan Bu Berman yang mengandung bayinya pada umur 38 tahun. Dari tanggal 19 Februari hingga 3 November 1974, Bu Berman berada di bawah pengawasan dan perawatan Drs. Allan dan Attardi, keduanya adalah pakar dalam ilmu penyakit wanita dan kebidanan. Pada 3 November, bayinya yang kemudian diberi nama Sharon dilahirkan. Tetapi kelahiran Sharon ternyata tidak sesuai dengan harapan Bu Berman, karena Sharon tidak lahir dengan keadaan normal, namun Sharon menderita Sindrom Downs – sebuah cacat fisik dan mental.
  4. Pada kasus Gleitman melawan Cosgrove, Pengadilan menolak wrongful life (melanggar hukum kehidupan) yang diajukan atas nama bayi dan wrongful birth (melanggar hukum lahir) yang diajukan atas nama orang tua bayi sebagai alasan hukum.
  5. Pada tanggal 11 September 1975 Paul dan Shirley Berman menuntut atas nama mereka dan atas nama wali bagi bayi mereka terhadap Ronald Allan dan Michael Attardi sebegai dokter kandungan karena perbuatan malpraktek.
  6. Penggugat beralasan bahwa tergugat bersalah karena melakukan penyimpangan terhadap standar medis dengan tidak memberitahukan kondisi kandungannya yang menunjukan kelainan.
  7. Jika sekiranya kedua dokter ini memberitahukan hasil tes amniosintesis bahwa ada kelainan dalam kandungannya, maka Bu Berman dapat memutuskan untuk meneruskan kehamilannya atau mengarborsinya.
  8. Tuntutan penggugat
    1. Sebagai wali pengasuh Sharon, penggugat menuntut ganti rugi untuk kompesasi atas derita mental dan fisik sepanjang hidup Sharon karena kelainan tersebut.
    1. Sebagai orang tua Sharon, penggugat menuntut kompensasi atas derita metal yang mereka alami dan biaya medis dan biaya perawatan, pendidikan dan pengawasan Sharon.
  9. Terhadap kasus ini ada beberapa pendapat :
    1. Pendapat Pengadilan yang disampaikan oleh Pashman J:
      1. Pada tanggal 4 Nopember 1977 hakim menyampaikan ringkasan hukum yang mendukung tergugat dengan alasan bahwa penggugat tidak bisa membuktikan alasan-alasan hukum terhadap tuntutan mereka dengan alasan:
        1. Pengadilan menolak wrongful life sebagai alasan hukum, karena:
          1. sulit menentukan besarnya kerugian yang diderita oleh penggugat, karena tidak bisa membandingkan keadaan normal dimana Sharon terlahir tanpa cacat, karena Sharon hanya satu orang dan terlahir satu kali. Dengan demikian tidak ada dua Sharon yang diperbandingkan antara merawat yang normal dan yang cacat.
          2. Kenyakinan masyarakat bahwa hidup dengan atau tanpa cacat adalah lebih berharga dari pada tidak hidup. Dengan kata lain sejak Sharon berada dalam rahim ibunya, dia sudah memiliki hak hidup yang tidak boleh dicabut siapa pun dengan alasan apapun termasuk karena terindikasi cacat dan menderita Sindrom Down (keterbelakangan).
          3. Bahwa hak hidup merupakan salah satu dari Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dicabut oleh siapapun tanpa alasan hukum.
        2. Pengadilan menerima wrongful birth (melanggar hukum lahir) sebagai alasan hukum yang diutarakan penggugat karena:
          1. Dokter kandungan Bu Berman telah terbukti bersalah dengan tidak memberitahu perihal kondisi kandungan Bu Berman.
          2. Dengan demikian maka dokter kandungan tersebut melanggar prosedur standar perawatan.
      2. Pendapat Handler, J. yang menyetujui sebagian dan menolak sebagian:
        1. Handler setuju bahwa Pengadilan menerima alasan hukum orang tua anak cacat terhadap kelalaian dokter kandungannya yang tidak melaksanakan prosedur sebagaimana mestinya, sehingga penggugat berhak menerima ganti rugi atas penderitaan karena anaknya yang cacat dan derita akibat melahirkannya.
        2. Handler tidak setuju dengan pendapat Pengadilan yang tidak menerima gugatan atas nama anak (wrongful life). Anak, menurut Handler, sejak terjadinya pembuahan memiliki hak untuk dirawat dan dijaga baik oleh orang tuanya maupun oleh dokter yang merawat ibunya.
  1. 18 September 2013 pukul 23:48

    Hello, i think that i saw you visited my web site so i came to “return the favor”.I’m trying to find things to improve my website!I suppose its ok to
    use a few of your ideas!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: