Beranda > Hukum Ekonomi Politik, Tugas Individu, Tugas Kelompok > Investasi Sektor Riil Dan Sektor Non-Riil Dalam Perspektif Ekonomi Islam_Bagian 7

Investasi Sektor Riil Dan Sektor Non-Riil Dalam Perspektif Ekonomi Islam_Bagian 7

BAB IV

ANALISA

1. Pandangan Ekonomi Islam terhadap Investasi Sektor Riil

Investasi sektor riil menurut syariat islam merupakan sarana investasi yang sangat tepat untuk dijadikan piihan para investor bahkan harus dijadikan pilihan yang utama untuk berinvstasi dibandingkan sektor non rill. Bahkan menurut sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa dalam syariat Islam tidak dikenal mengenai investasi  riil dan yang dikenal hanya investasi sektor riil .

Berinvestasi di sektor riil memang memiliki resiko yang cukup lumayan besar selain itu untuk diperlukan modal yang cukup besar akan tetapi jika dikelola dengan benar dan tanggung jawab serta tidak keluar dari syarait islam akan dipastikan hasilnya dapat langsung terlihat  dengan berinvestasi di sektor riil hasilnya dapat dilihat langsung secara nyata dan juga barokah.

Menurut perspektif Islam, untuk menentukan pilihan investasi jangan hanya dipikirkan mengenai keuntungan yang akan didapat, akan tetapi harus dipikirkan halal dan haramnya  sehingga tidak melanggat aturan- aturan syariat Islam selain itu juga harus dipikirkan manfaatnya untuk orang lain tidak hanya memikirkan untuk kepentingan sendiri maskudnya  dalam aktivitas  investasi harus ada motifasi social yakni membantu masyarakat yang tidak memiliki modal  namum memiliki kemampuan berupa keahlian dalam menjalankan usaha.

Dasar ekonomi islam lebih menitik beratkan kepada investasi di sektor riil dengan tujuan untuk mastikan agar harta kekayaan tidak ditimbun sebaiknya harta kekayaan tetap  dimanfaatkan atau diputar dengan secara luas, dan juga melarang adanya riba terhadap  kepemilikan harta kekayaan tetap, dan  dengan berinvestasi disektor riil tentunya riba akan terhindarkan.  Dan seandinya pun masih ada yang menyimpan uang dibank dengan menabung maka jangan terdapat bunga, dan uang yang disimpan dibank tersbut  sebagai tabungan  harus disalurkan ke sektor riil  dengan bentuk kerja sama  dan bagi hasil.

Akan tetapi pada kenyataannya manusia  memiliki sifat yang serakah dan  sehingga bentuk – bentuk  investasi dengan kerjasama atau berupa bagi hasi tersebut manusia tidak menyukainya hal ini dikarenakan manusia lebih puas menikmati hasilnya secara penuh  tidak mau berbagi sebagian hasilnya dengan para pemberi modal atau partner bisnis. Dan seandainya mereka tidak memiliki modal mereka lebih menyukai meminjam uang dengan bunga lebih ringan dan kecil dari pada memberikan sebagian hasilnya oleh pemiilik modal.

B. Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Investasi Sektor Non Riil

Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian didunia sangat tidak seimbang dimana, pertumbuhan sektor non riil melesat jauh perkembangannya dibandingkan pertumbuhan sektor  riil, hal  ini disebabkan dengan maraknya  arus uang yang diperjual belikan di picu lagi dengan  banyaknya bisnis spekulasi dunia pasar modal.

Menurut ekonomi islam pertumbuhan perekonomian sektor non riil yang pesat   tersebut hanyalah pertumbuhan ekonomi yang rapuh karena didalamnya tidak ada kekuatan apapun didalamnya hampa dan kosong sehingga sangat rawan kegagalan. Hal ini disebabkan yang beredar dipasaran atau yang tumbuhnya bukan barang atau jasa akan tetapi uang. Sedangkan menurut ekonomi Islam pertumbuhan perekonomian suatu negara tidak bisa  hanya didasarkan pada  banyaknya jumlah uang yang beredar akan tetapi  harus adanya kesimbangan antara beredarnya uang dipasaran dengan barang dan jasa. Padahal Islam sangat melarang segala jenis yang berhubungan dengan jenis transaksi di pasar uang, disebabkan uang bukanlah komoditas untuk diperdagangkan  akan tetapi Islam sangat mendorong umatnya untuk melakukan perdagang berbentuk barang dan jasa.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini masyarakat sangat terpesona dengan investasi yang berbasis non rill hal ini disebabkan tergiurnya dengan keuntungan yang ditawarkan yaitu berupa bunga yang cukup lumayan besar disamping itu untuk berinvestasi disektor  non riil tidak harus bermodalkan besar dengan modal kecil pun masyarakat sudah bisa untuk berinvestasi, sehingga banyak masyarakat yang  menginvestasikan uangnya ke sektor non rill  dibanding ke sektor riil. Padahal secara Jelas  Islam sangat melarang bahkan mengharamkan transaksi jual beli yang berbasis riba.

Pada prinsipnya Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan aktifitas ekonomi (muamalah) dengan cara yang benar dan baik tentunya juga harus sesuai dengan syariat Islam. Selain itu  Islam sangat melarang  penimbunan barang, membiarkan harta (uang ) menjadi tidak produktif, dan islam mengharuskan setiap ativitas ekonomi harus dilakukan untuk meningkatkan ekonomi umat, yang selain tujuannya untuk memperoleh keuntungan (falah) baik materi maupun non materi dunia dan akhirta. Disampin itu Segala bentuk aktivitas ekonomi berupa investasi haruslah berdasarkan suka sama suka, berkadilan dan tidak saling merugikan (la dharara wa la dhirara).

C.   Bentuk-Bentuk Investasi Sektor Rill Menurut Ekonomi Islam

Investasi sektor rill dalam islam pada dasarnya adalah boleh selama berpedoman pada prinsip-prinsip muamalat islam, yaitu:

1)      Pada dasarnya segala bentuk muamalat adalah boleh kecuali yang dilarang oleh nash.

2)      Muamalat dilakukan atas pertimbangan maslahah

3)      Muamalat dilaksanakan untuk memelihara nilai keadilan.

Diantara skema investasi yang bisa dilakukan dalam islam adalah investasi pada perusahaan yang melakukan transaksi jual beli (al-bai’), jual beli barter (al-muqayadhah), jual beli mutlak, jual beli mata uang (sharf), jual beli pesanan (al-salam), jual beli istishna’, jual beli Murabahah, jual beli Tauliyah, jual beli Wadi’ah, jual beli Musawamah, sewa menyewa (ijaroh), kerjasama dalam perdagangan (syirkah), mudharabah, dan kerjasama dalam bidang pertanian (muzara’ah dan musaqah).

Adapun jenis investasi riil yang dilarang melihat dari barang yang diproduksinya adalah seperti investasi pada perusahaan pembuatan alkohol, perjudi, perusahaan senjata gelap, jual beli barang najis dan bisnis pornografi. Sedangkan jenis investasi riil yang dilarang melihat dari cara pelaksanaanya adalah seperti :

1)      Jual beli sesuatu yang tidak ada (bai’ al-ma’dum).

2)      Menjual barang yang tidak dapat diserahkan pada pembeli (bai’u ma’zuji al-taslim).

3)      Jual beli ’arabun/’urbun adalah menjual suatu barang dengan lebih dulu membayar panjar kepada pihak penjual (sebelum benda yang dibeli diterima), dengan ketentuan jika jual beli jadi dilaksanakan, uang panjar itu dihitung sebagai bagian dan harga, dan jika pihak pembeli mengundurkan diri maka uang panjar itu menjadi milik pihak penjual.

4)      Memperjualbelikan air sungai, air danau, air laut, dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang atau merupakan hak bersama umat manusia (kepemilikan kolektif), dan tidak boleh diperjualbelikan.

D.   Bentuk-Bentuk Investasi Sektor Non Rill Menurut Ekonomi Islam

1)      Perbankan Syariah

Nasabah yang menabung di bank syariah tidak akan diberikan keuntungan bunga melainkan berupa bagi hasi.

2)      Asuransi Syariah

Pada asuransi syariah, perjanjiannya adalah para nasabah mengikatkan diri dalam suatu komunitas dan saling menanggung jika terjadi musibah dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah yang, memastikan bahwa semua mekanisme asuransi dan alokasi investasinya tidak bertentangan dengan hukum syariah.

3)      Sekuritas syariah

Yang dimaksud dengan skuritas  syariah adalah efek yakni sebuah nama kolektif untuk macam-macam surat berharga yaitu berupa :

(a). Saham syariah

Tidak semua saham yang terdaftar di pasar modal memenuhi prinsip-prinsip syarih. Untuk itu Bursa Efek Jakarta bekerjsama dengan Dana reksa Investemen Management, mengembangkankan suatu indeks untuk melisting saham-saham mana saja yang layak dianggap memenuhi prinsip–prinsip syariah. Indeks ini disebut dengan Jakarta Islamic Indeks (JII).

Di bawah ini kaidah-kaidah syari’ah yang telah dipenuhi dalam instrumen saham:

1)      Kaidah syariah untuk saham

a)      Bersifat musyarakah jika saham ditawarkan secara terbatas.

b)      Tidak boleh ada pembedaan jenis saham karena resiko harus ditanggung oleh semua pihak.

c)      Seluruh keuntungan akan dibagi hasil, dan jika terjadi kerugian akan dibagi rugi bila perusahaan dilikuidasi.

d)      lnvestasi pada saham tidak dapat dicairkan kecuali setelah likuidasi.

2)      Kaidah syariah untuk emiten:

a)      Produk/jasa yang dihasilkan dikateqorikan halal.

b)      Hasil usaha tidak mengandung unsur riba dan tidak bersifat zalim.

c)      Tidak menempatkan investor dalam kondisi gharor atau maisir, seperti transparansi, resiko usaha yang wajar, manajemen islami dan menghormati HAM.

3)      Kaidah syariah untuk pasar perdana

a)      Semua akad harus berbasis pada transaksi yang riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal dan bermanfaat.

b)      Tidak boleh menerbitkan efek hutang untuk rnembayar kernbali hutang.

c)      Dana hasil penjualan efek yang diterbitkan akan diterima oleh perusahaan.

d)      Hasil investasi yang akan diterima pemodal rnerupakan fungsi dan manfaat yang diterima emiten dari modal yang diperoleh dari dana hasil penjualan efek dan tidak boleh sernata-rnata merupakan fungsi dari waktu.

4)      Kaidah syariah untuk pasar sekunder.

a)      Semua efek harus berbasis pada transaksi riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal.

b)      Tidak boleh membeli efek hutang dengan dana dari hutang atau menerbikan surat hutang.

c)      Tidak boleh membeli berdasarkan tren atau indeks.

d)      Tidak boleh memperjualbelikan hasil yang diperoleh dari suatu efek (misalnya kupon, dividen) walaupun efeknya sendiri dapat diperjualbelikan.

e)      Tidak boleh melakukan transaksi murabahah dengan menjadi obyek transaksi sebagai jaminan.

f)       Transaksi tidak menyesatkan, seperti penawaran palsu dan cornering.

(b). Oligasi  Syariah

Obligasi syariah adalah suatu surat berharga berjangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Jenis  obligasi  syariah  jika dilihat dari aspek akad  sangat beraneka ragam yaitu obligasi salam, obligasi istina, obligasi murabahah, ijarabah, dan obligasi musyarkah. Akan tetapi yang terkenal dan diminati masyarakat adalah obligasi mudharabah dan ijarah.

Syarat menerbitkan obligasi syariah adalah:

1. Aktivitas utama yang halal.

2  Peringkat investment grade:

– memiliki fundamental usaha yang kuat

– memiliki fundamental yang kuat

– memiiliki citra yang baik bagi public

Prinsip-prinsip pokok penerbitan obligasi syariah adalah sebagai berikut :

  1. Kontrak atau akad mudharabah atau akad syariah lainnya yang sesuai dituangkan dalam perjanjian perwaliamanatan.
  2. Rasio atau presentse bagi hasil (nisbah) dapat diterapkan berdasarkan komponen pendapatan (revenue) atau keuntuangan.
  3. Nisbah ditetapkan konstan, meningkat, ataupun menurun, dengan mempertimbangkan proyeksi pendapatan emiten, tetapi sudah ditetapkan di awal kontrak.
  4. Pendapatan bagi hasil .
  5. Pendapatan bagi hasil  dibagikan secara periodik.

(c). Reksa Dana Syariah

Pada reksa dana syariah, keputusan investasi yang dilakukan oleh manajer investasi dilakukan dalarn batasan-batasan rambu syariah. Dengan cara ini, hasil investasi yang dibagikan kepada para investor menjadi bersih dari riba dan unsur yang tidak halal lainnya.

  1. Belajar Berbagi
    6 Juli 2013 pukul 15:29

    mantap informasinya…
    boleh dicopy ya?

  2. opissen
    26 Mei 2013 pukul 16:57

    thanks..,membantu untuk tgas..,kunjungi jg my blog http//:blog.umy.ac.id/opissen/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: