Beranda > Aspek Pengubah Hukum, Tugas Individu > Fenomena KDRT Sebagai Faktor Pengubah Hukum di Indonesia

Fenomena KDRT Sebagai Faktor Pengubah Hukum di Indonesia

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia yang berpenduduk 220 juta menghadapi berbagai permasalah baik domestik maupun publik seperti; Pertama, aspek perekonomian; kondisi perekonomian dimana hampir 60% penduduk Indonesia berada pada garis kemiskinan yang tersebar di daerah-daerah pelosok, angka urbanisasi yang tinggi, dan pemerataan perekonomian yang semrawut karena hampir 70% uang ada di ibukota saja, pemberlakuan PHK karena perusahaan yang pailit serta permasalahan pengangguran yang menempati posisi pertama, perlu digarisbawahi bahwasannya perekonomian saat ini yang melahirkan munculnya kaum konsumerisme dimana objeknya adalah perempuan.[1] Pekerja perempuan lebih banyak dibutuhkan karena pertimbangan pekerja perempuan dibayar lebih murah daripada pekerja laki-laki, dan perempuan lebih teliti dalam managemen kerja di dunia kerja yang telah tergantikan oleh tenaga mesin, namun juga telah mendiskriminasikan perempuan karena pekerja perempuan tidak mendapatkan hak-hak yang secara lahiriah harus dipenuhi seperti hak cuti hamil, haid dan gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan.[2] Dua, aspek keamanan; Indonesia yang belakangan ini seringkali dihantui oleh para terorisme, pemboman dimana-mana, kerusuhan hampir setiap bulan, dan militerisme yang seringkali ditolak keberadaannya serta meningkatnya keresahan masyarakat, terutama kaum perempuan yang tidak lagi nyaman berada di ruang publik, perdagangan manusia semakin marak dengan korban adalah perempuan dan anak-anak. Ketiga, aspek sosial-budaya; budaya patriarki masih sangat tertanam dalam kehidupan umat manusia tidak saja di negeri Indonesia tetapi di belahan dunia, dengan legitimasi Islam sebagai agama yang mendukung berakarnya budaya patriarki tersebut.[3] Keempat, aspek politik; masih sedikitnya perempuan yang berkesempatan duduk di tataran kebijakan (pengambil kebijakan) yang sangat sarat dengan gender dan dunia politik sepertinya hanyalah dunia laki-laki saja. Terbukti dengan ketidak berhasilan dan affirmative Action 30% keterwakilan perempuan di parlemen yang belum tercapai, diketahui hanya kurang dan 8,8% perempuan mampu duduk di parlemen, dan 100 kepala desa hanya 2 orang perempuan, dan dan 100 Hakim hanya 28 hakim perempuan serta dan 100 jaksa hanya 39 jaksa perempuan.[4] Keilma, aspek pendidikan; perempuan masih banyak menderita buta huruf, dan 100 penduduk 3 di antaranya adalah perempuan.[5] Tidak adanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi karena orangtua biasanya lebih memilih anak laki-laki untuk melanjutkan jenjang pendidikannya setinggi mungkin ketimbang perempuan yang nantinya ke dapur juga.[6] Keenam, aspek hukum; keadilan atas hukum yang berlaku menjadi pesimistik bagi masyarakat dalam menjalankan supremasinya, serta ketidakpercayaan terhadap para penegak hukum maupun terhadap setiap aturan hukum atas undang-undang yang berlaku tidak sensitif gender dan lebih menyudutkan perempuan, hukum telah tidak berpihak terhadap perempuan.

Dari keenam aspek tersebut dapat terlihat, bahwa selama ini telah terjadi kesenjangan dan hakekat kehidupan umat manusia antara perempuan dan laki laki, antara orang tua dan anak, antara kerabat dengan kerabat lain dalam satu keluarga, antara seorang yang rentan dan yang mempunyai kekuasaan.

Perempuan berasal dari bahasa sansekerta per-empu-an yang berarti mahluk yang mempunyai kemampuan atau mahluk berkemampuan, berbeda secara terminologi denagn arti wanita dalam bahasa sansakerta wani di toto yang artinya selalu manut dan turut. Perempuan selalu menjadi objek dan setiap permasalahan baik itu kejahatan, perkosaan, pencurian dan sebagainya. Maka jelas perempuan telah mendapatkan diskriminasi.

“Dikriminasi terhadap perempuan berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan mengurangi atau menghapus pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dan status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan”.

Apabila diperhatikan bunyi Pasal 1 Undang-undang RI No.7 tahun 1984, tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. The Convention on The Elimination of All Form of Diskrimination Against Women (CEDAW) pada kongres perempuan dunia. Dunia telah mengakui bahwa ada permasalahan menimpa kaum perempuan yang selama ini diagungkan namun juga didiskriminasikan.

Dengan demikian kekerasan terhadap perempuan merupakan ancaman terus menerus bagi perempuan duniapun didunia anggapan bahwa kededukan perempuan lebih rendah dari laki-laki  membuat masalah kekerasan merupakan hal yang  menakutkan bagi perempuan. Ketentraman perempuan dan tidakan  kekerasan merupakan sudah satu feor of Criminal (ketakutan terhadap kejahatan).

Akibat dari tindakan  kekerasan, trauma yang dialami oleh perempuan semakin lama, apakah kalauu trauma kekerasan itu bersal dari orang-orang yang mempunyai hubungan  khusus dengan dirinya, misalnya keluarga, teman, atasan, atau pacar bahkan kekerasan itu akan semakin terjadi apabila berada pada daerah konflik.

Kondisi kekerasan terhadap perempuan sudah merupakan  fenomena universal, dari seorang negara yang diteliti selalu ditemukan kekerasan dalam keluarga  (family violent), dan dalam prilaku  tersebut yang paling sering terjadi adalah  tindakan kekerasan terhadap perempuan. [7])

Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) adalah salah satu bentuk diskriminasi yang terjadi pada perempuan. Kekerasan tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban kekerasan. Kekerasan adalah “. . .the thret, attempt, or use of physical force by one or more persons that result in physical or non physical harm to one or more other person”[8] Kekerasan ini merupakan wujud perbuatan yang lebih bersifat fisik yang mengakibatkan luka, cacat, sakit, atau penderitaan pada orang lain.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah tindakan yang mengakibatkan pada kesengsaraan dan penderitaan-penderitaan perempuan secara psikologis, fisik dan seksual, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum maupun dalam lingkungan kehidupan pribadi.[9] Bentuk pemerkosaan atas nama ikatan perkawinan atau pada posisi seorang pelaku yang memaksa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap korban untuk melakukan hubungan seksual dimana pada saat itu korban tidak menghendakinya adalah salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

Bab 1 sampai Bab 5 secara utuh dapat dilihat pada file ini.


[1] Iene Mulyati, Perempuan dan Budaya Konsumerisme, Makalah Dalam Peringatan Hari Perempuan Sedunia, KOHATI PB HMI, Jakarta, 5 Maret 2004.

[2] Ibid,

[3] Marwah Daud Ibrahim, Teknologi Emansifasi dan Transedensi, Wacana Peradaban Dengan visi Islam, Bandung, Mizan, 1994.

[4] Melani, Kedudukan Perempuan dalam Persfektip Hukum di Indonesia, Makalah yang disampaikan di Forkom Gender jabar, 2002.

[5] Ibid.

[6] Kementerian PP R.I. Gender, Bookklet

[7] Jane Robert Chafman, Violence Againt Waulen as a Violation of Human Right dalam Social Justice, Vol. 17, hal. 1 Summer 1990

[8] Aroma Elmina Martha, Perempuan Kekerasan dan Hukum, Yogyakarta, UII Press, 2003, hal. 21.

[9] Adriana Venna, Memahami Kekerasan terhadap Perempuan, Jakarta, YJP, 2003.

  1. 15 Oktober 2012 pukul 14:06

    Hi there, i read your blog occasionally and i own a
    similar one and i was just curious if you get a lot of
    spam feedback? If so how do you protect against it,
    any plugin or anything you can suggest? I get so much lately it’s driving me insane so any assistance is very much appreciated.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: