Beranda > Sosiologi Hukum, Tugas Individu > Bom Bali I Dalam Pandangan Teori Differential Association

Bom Bali I Dalam Pandangan Teori Differential Association

I. Penjelasan Teori Perbedaan Asosiasi[1]

A. Permasalahan Teori Kriminologi

Jika kriminologi dijadikan sebagai Ilmu Pengetahuan, berbagai macam “Faktor” yang telah diketahui dapat diasosiasikan dengan kriminal dan kriminalitas yang akan disusun dan diintegrasikan melalui pengertian Teori Penjelasan (Ekplanatori) yang mempunyai kesamaan karakteristik dengan teori Ilmu Pengetahuan (Saintifik) dalam bidang kajiannya. Dengan demikian, kondisi yang dikatakan menyebabkan kriminal akan selalu ada saat kriminal itu terjadi, dan akan tidak ada jika kriminal itu tidak ada. Seperti halnya teori atau bagian dari teori, akan mendorong, menyederhanakan dan memberikan petunjuk terhadap penelitian kriminologis, dan akan menyajikan sebuah kerangka kerja untuk memahami pentingnya banyak pengetahuan  yang dibutuhkan tentang kriminal dan kriminalitas pada waktu terdahulu. Selain itu, teori akan sangat bermanfaat dalam mengawasi kriminal, dapat diterapkan dengan cara yang sama seperti insiyur yang menerapkan Teori Ilmu Pengetahuan (Saintifik) dari Ilmuwan.

Ada dua prosedur yang saling melengkapi yang dapat digunakan untuk menyusun Ilmu Kriminalitas, dalam rangka membangun sebuah teori kausalitas dalam prilaku kriminal. Pertama adalah Abstraksi Logis. Orang Negro, Penduduk Desa (Urban) dan Remaja relatif memiliki tingkat kriminal yang tinggi. Apa yang mereka miliki secara umum yang menyebabkan angka kriminalitas yang tinggi tersebut?. Kajian-kajian Penelitian telah menunjukkan bahwa prilaku kriminal itu berhubungan, baik pada tahap tinggi maupun rendah, dengan penyakit sosial dan individu, seperti kemiskinan, perumahan kumuh, kepadatan tempat tinggal, kurangnya fisilitas rekreasi, kekurangan dan menurunnya moralitas keluarga, keterbelakangan mental, ketidakstabilan emosi, dan sifat dan kondisi lainnya. Apa yang terjadi pada umumnya dalam kondisi ini yang dengan jelas menimbulkan kriminalitas yang berlebihan? Kajian-kajian Penelitian pun menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki sifat dan kondisi yang sakit, tidak melakukan tindak kriminal dan bahwa orang-orang tingkat atas dalam segi ekonomi dan sosialnya lebih sering melanggar hukum, meskipun mereka tidak berada dalam kemiskinan, tidak kekurangan fasilitas rekreasi, tidak mengalami keterbelakangan mental atau ketidak-stabilan mental. Nyatanya, bukanlah kondisi atau sifat mereka yang menyebabkan tindakan kriminal, pada beberapa kondisi terkadang ada ketika kriminalitas terjadi dan terkadang tidak ada ketika kriminalitas muncul. Penjelasan sebab akibat prilaku kriminal dapat dicapai dengan meng-abstraksi-kan, secara logis, mekanisme-mekanisme dan proses-proses yang umum, bagi orang miskin dan orang kaya, orang Negro dan kulit putih, dan penduduk kota dan desa, remaja dan orang tua, dan orang yang emosinya stabil dan yang tidak stabil, yang melakukan tindak kriminal.

Untuk sampai pada mekanisme dan proses abstrak tersebut, prilaku kriminal harus dengan benar didefinisikan dan dengan hati-hati dibedakan dari prilaku non kriminal. Permasalahan dalam kriminologi adalah menjelaskan kriminalitas prilaku, bukan prilaku itu sendiri, seperti yang telah diketahui. Mekanisme dan proses abstraksi yang umumnya dibagi dalam beberapa klas kriminalitas seperti yang termuat di atas, tidak berlaku umum pada tindakan non kriminal. Prilaku kriminal adalah prilaku manusiawi, sama halnya dengan tindakan non kriminal, dan harus dijelaskan bersama dengan kerangka yang sama yang digunakan untuk menjelaskan prilaku manusiawi lain. Meskipun demikian, suatu penjelasan tentang Prilaku Kriminal harus merupakan suatu bagian yang khusus dari teori umum tentang prilaku. Tugas khusus ini harus dapat membedakan tindakan kriminal dengan tindakan non kriminal. Banyak hal yang dibutuhkan bagi prilaku, dengan suatu alasan, tidak penting bagi kriminalitas prilaku. Pernafasan, contohnya, dibutuhkan oleh semua prilaku, tetapi proses pernafasan tidak dapat digunakan dalam menjelaskan tentang prilaku kriminal, dengan demikian tidak dapat membedakan prilaku kriminal dari prilaku non kriminal.

Cara yang kedua untuk menyusun Ilmu Pengetahuan Kriminologi adalah membedakan level analisis. Artinya bahwa permasalahan terbatas pada bagian tertentu dari keseluruhan keadaan, lebih luasnya dengan istilah kronoligi. Analisis sebab akibat (kausal) harus dilakukan pada tingkatan tertentu. Contohnya, ketika para ilmuwan mengemukakan hukum tentang jatuhnya seseorang, mereka tidak memperhatikan alasan mengapa orang tersebut mulai terjatuh, kecuali mungkin pengaruh dari daya dorong sebelumnya. Ini tidak ada perbedaan bagi para ilmuwan apakah seseorang mulai jatuh karena didorong oleh tangan ilmuwan yang melakukan percobaan, atau tergelincir dari ujung sebuah jembatan karena getaran yang disebabkan oleh kendaraan yang lewat. Juga, benda berbentuk bulat akan mudah tergelincir dari jembatan lebih mudah daripada bentuk persegi, tetapi hal ini tidak penting (signifikan) bagi hukum jatuhnya seseorang. Seperti halnya bukti-bukti yang dianggap ada pada salah satu tahapan pemahaman dan tidak relevan dengan masalah yang menjadi objek perhatian ilmuwan.

Banyaknya kebingungan dalam memahami prilaku kriminal dikarenakan oleh kegagalan dalam mendefinisikan dan terus mempertahankan tingkatan penjelasan. Dengan analogi, beberapa kriminolog akan menghubungkan tingkat-tingkat kekuatan sebab-akibat dengan bulatnya objek dalam ilustrasi di atas. Walaupun demikian, pertimbangan-pertimbangan akan urutan waktu diantara kondisi-kondisi yang dihubungkan dengan tindakan kriminal dan kriminalitas akan mengarah pada penyederhanaan definisi. Dalam bermacam kumpulan faktor yang dipersamakan dengan prilaku kriminal, salah satu faktor akan sering muncul sebagai faktor yang paling penting diantara faktor yang lain (pada umumnya jalan yang “melengkung” lebih mudah menimbulkan “getaran”  dan “getaran” lebih mudah menimbulkan “berombaknya jembatan”), tetapi ungkapan teoritis tentang prilaku kriminal dapat dibuat tanpa merujuk kepada faktor-faktor awal. Dengan mempertahankan analisis pada satu tingkatan, faktor-faktor awal digabungkan dengan atau dibedakan dari faktor-faktor atau kondisi-kondisi yang muncul kemudian, ini akan mengurangi banyaknya variabel yang harus dipertimbangkan dalam sebuah teori.

Gambaran peristiwa beberapa tahun yang lalu menunjukkan dua anak laki-laki terlibat dalam pencurian; meraka lari saat tertangkap basah, salah satunya berkaki panjang, kabur, dan menjadi pendeta; dan yang lainnya berkaki pendek, tertangkap, berjanji untuk berubah, dan menjadi gangster. Pada perbandingan ini, anak laki-laki yang menjadi kriminal dibedakan dari yang satunya yang tidak menjadi kriminal dengan kaki panjangnya. Tetapi “panjangnya kaki” perlu mendapat pemikiran dalam teori kriminologi, dengan contoh ini tidak ada hubungan yang signifikan antara kriminalitas dan panjangnya kaki. Panjangnya kaki tidak menentukan kriminalitas dan tidak ada hubungan penting dengan kriminalitas. Dalam ilustrasi ini, perbedaan panjangnya kaki anak laki-laki mungkin diteliti agar menjadi signifikan tehadap kriminalitas atau non kriminalitas hanya kepada tingkatan bahwa yang menentukan pengalaman dan perkumpulan (kelompok) selanjutnya dari kedua anak ini. Dalam pengalam dan kelompok inilah, kemudian, bahwa mekanisme dan proses penting bagi kriminalitas dan bukan kriminialitas ditemukan. Salah satu tingkatan penjelasan teoritis tentang tindak kriminal akan dikonsentrasikan hanya dengan mekanisme dan proses tersebut, bukan dengan faktor awah, yakni “panjangnya kaki”.

B. Dua Jenis Penjelasan tentang Prilaku Kriminal

Penjelasan ilmiah tentang prilaku kriminal akan diutarakan juga dalam istilah proses yang berjalan pada saat yang sama dengan timbulnya tindakan kriminal atay dalam istilah proses yang berlangsung pada sejarah awal kriminal.  Dalam kasus pertama, penjelasan akan dinamakan “mekanistis”, “situasional”, atau “dinamis”; sedangkan dalam kasus kedua dinamakan “histories” atau “genetic”. Kedua jenis penjelasan ini dapat dipilih semau kita. Tipe penjelasan mekanistis disukai oleh ahli fisika dan biologi, dan mungkin saja tipe ini lebih efisien tentang penjelasan prilaku kriminal. Meskipun begiru, penjelasan kriminologis terhadap tipe mekanistis sampai sekarang tidak berhasil. Seara umum mungkin karena mereka telah menyusun berhungan dengan usa untuk mengucilkan pribadi dan penyakit sosial diantara tindakan kriminal. Bekerja atas dasar pandangan ini setidaknya telah menghasilkan kesimpulan bahwa faktor penentu secara langsung terhadap prilaku kriminal teletak pada kerumitan keadaan pribadi seseorang.

Keadaan sebenarnya sangat penting bagi kriminalitas, yang umumnya terhadap perluasan pengertian bahwa keadaan tersebut menimbulkan kesempatan untuk berbuat kriminal. Seorang pencuri akan mencuri dari kedai buah-buahan ketika pemiliknya tidak kelihatan tetapi ia akan menahan dirinya (untuk tidak mencuri) jika pemiliknya terlihat; perampok bank akan menyerang bank yang kurang penjagaannya dan akan menahan dirinya terhadap bank dengan penjagaan ketat dan alarm keamanan. Sebuah perusahaan yang memproduksi kendaraan bermotor jarang melanggar hukum keaslian obat dan makanan, tetapi perusahaan pengepakan daging (meat-packing) akan lebih sering melanggarnya. Tetapi menurut pandangan lain, pandangan psikologis atau sosiologis, keadaan tersebut adalah khusus bagi seseorang, keadaan yang penting adalah keadaan yang didefinisikan oleh orang yang terlibat. Karena itu, beberapa orang mendifinisikan suatu keadaan dimana pemilik kedai buah tidak kelihatan sebagai keadaan “melakukan tindak kriminal”, sementera yang lain tidak mendefinisikannya. Selain itu, kejadian-kejadian dalam keadaan seseorang pada saat terjadinya kriminal tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidup kriminal yang penting (utama). Artinya  bahwa keadaan didefinisikan oleh seseorang dalam kecenderungan dan kemampuan yang telah ia peroleh. Contohnya, ketika seseorang akan menjelaskan suatu keadaan dengan cara prilaku kriminal akan merupakan sebuah akibat yang tidak bisa dihindarkan, pengalaman masa lalunya, pada umunya, akan menentukan cara mendefinisikan keadaan. Penjelasan tentang prilaku kriminal yang dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu disebut sebagai penjelasan historis atau genetis.

Paragraf selanjutnya akan mengemukakan teori genetic dari prilaku kriminal pada asumsi bahwa tindak kriminal muncul ketika suatu keadaan tepat untuk itu, sebagaimana didefinisikan oleh seseorang, ada. Teori ini harus dipandang tentatif, dan harus diujicoba dengan informasi faktual yang disuguhkan pada bab selanjutnya dan dengan informasi faktual lain serta teori-teori yang dapat dipakai.

C. Penjelasan Genetis terhadap Prilaku Kriminal\

Pendapat-pendapat berikut merujuk kepada proses dimana orang tertentu terlibat dalam prilaku kriminal.

  1. Prilaku kriminal itu dipelajari. Pengertian sebaliknya, bahwa prilaku kriminal tidak diwariskan, sesorang yang belum dilatih kriminal tidak ditemukan prilaku kriminal, begitu pula seseorang yang tidak menciptakan penemuan mekanis jika tidak dilatih mekanik.
  2. Prilaku kriminal itu dipelajari melalui interksi dengan orang lain dalam proses komunikasi. Komunikasi ini bersifat verbal dalam berbagai interaksi tapi termasuk juga “komunikasi isyarat (tangan/kepala)”.
  3. Bagian penting dalam pembelajaran prilaku kriminal timbul bersama dengan keakraban kelompok seseorang. Artinya, bahwa media komunikasi umum, seperti film dan Koran, relatif memainkan bagian yang tidak penting dalam pewarisan prilaku kriminal.
  4. Ketika prilaku kriminal dipelajari, pembelajaran tersebut meliputi: a. cara-cara melakukan tindak kriminal, yang kadang sangat komplek dan kadang sangat mudah; b. petunjuk-petunjuk khusus motif, dorongan, alasan dan bersikap.
  5. Petunjuk khusus tentang motif dan dorongan dipelajari dari definisi perundang-ungangan yang menguntungkan dan tidak menguntungkan. Pada banyak masyarakat, seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang tetap mendefinisikan perundang-undangan sebagai peraturan yang harus dilaksanakan, sementera itu pula dia dikelilingi oleh orang-orang yang lebih suka melanggar perundang-undangan. Dalam masyarakat Amerika definisi-definisi tersebut hampir bercapur, dengan konsekwensi bahwa mereka mempunyai konflik budaya yang berhubungan dengan perundang-undangan (peraturan).
  6. Seseorang menjadi bersalah karena lebih banyaknya yang suka melanggar hukum daripada yang tidak suka melanggar. Inilah prinsip Perbedaan Asosiasi, merujuk kepada kelompok kriminal dan non kriminal dan melakukan ketidak-berpihakan. Ketika seseorang menjadi kriminal, dikarenakan oleh hubungan dengan pola kriminal dan juga karena jauh dari pola anti kriminal. Beberapa orang tidak dapat menghindari untuk membaur dengan budaya sekitarnya jika pola-pola lain tidak tejadi konflik; orang Selatan tidak mengucapkan r karena orang Selatan lain tidak mengucapkannya. Arti sebaliknya, pembagian (proposisi) Perbedaan Asosiasi ini berarti bahwa perkumpulan yang netral sejauh ini dalam hal tindak kariminal mempunyai sedikit atau tidak mempunyai pengaruh pada penurunan (pewarisan) prilaku kriminal. Banyak pengalaman seseorang yang netral dalam pandangan ini, seperti pelajaran menyikat gigi seseorang. Prilaku ini tidak memiliki efek negatif maupun positif terhadap prilaku kriminal kecuali bbila dihubungkan dengan kelompok yang berurusan dengan perundang-undangan. Prilaku netral ini sangatlah penting khususnya pada masa kanak-kanak sehingga dia tidak berhubungan dengan prilaku kriminal sepanjang dia berada dalam prilaku netral.
  7. Perbedaan Asosiasi berbeda dalam frekuensi, durasi, prioritas dan intensitas. Artinya bahwa kelompok dengan prilaku kriminal dan juga kelompok dengan prilaku anti kriminal berbeda dalam hal-hal tersebut. “Frekuensi” dan “durasi” sebagai cara-cara kelompok telah jelas dan tidak membutuhkan penjelasan. “Prioritas” diasumsikan penting dalam anggapan bahwa prilaku mematuhi hukum terbangun pada masa kanak-kanak yang akan bertahan sepanjang hidup, begitu juga prilaku melanggar hukum terbangun pada masa kanak-kanak yang akan bertahan sepanjang hidup. Meskipun demikian, kecenderungan ini, telah cukup untuk dipertunjukkan, lebih terlihat penting secara mendasar diantara pengaruh yang telah dipilih. “Intensitas” tidak dengan jelas terdefinisi, tetapi harus dilakukan dengan sesuatu gengsi sumber-sumber polan kriminal dan non kriminal dan dengan reaksi emosional yang berhubungan dengan kelompok. Dalam deskripsi yang jelas tentang prilaku kriminal seseorang, cara-cara tersebut akan digolongkan dalam bentuk kuantitatif dan rasio matematis [akan] dicapai. Sebuah formula dalam pandangan ini tidak dapat dibangun, dan pembangunan suatu sangatlah sulit.
  8. Proses pembelajaran prilaku kriminal oleh kelompok dengan pola kriminal dan non kriminal termasuk seluruh mekanisme yang adal dalam setiap pembelajaran yang lain. Artinya, pembelajaran prilaku kriminal tidak terbatas pada proses peniruan. Seseorang yang dipengaruhi, contohnya, mempelajari prilaku kriminal dengan kelompok, tetapi proses ini tidak seutuhnya digambarkan sebagai peniruan.
  9. Ketika prilaku kriminal dilakukan sebagai wujud keinginan seseorang terhadap kebutuhan dan nilai-nilai umum, prilaku kriminal tidak digambarkan oleh kebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut, sedangkan prilaku non kriminal merupakan gambaran kebutuhan dan nilai-nilai yang sama. Para pencuri secara umum melakukan pencurian untuk memperoleh uang, begitu juga dengan pekerja yang jujur melakukan pekerjaannya untuk memperoleh uang. Usaha-usaha yang yang dilakukan oleh beberapa sarjana untuk menjelaskan prilaku kriminal melalui dorongan kebutuhan dan nilai-nilai umum, seperti prinsip  kesenangan, berusaha untuk status sosial, motif keuangan, atau frustasi, telah, dan akan terus berlanjut, akan sia-sia, selama mereka menjelaskan prilaku patuh hukum seperti mereka menjelaskan prilaku kriminal.

Tidaklah dibutuhkan, pada tahap penjelasan ini, untuk menjelasan kenapa seseorang mempunyai kelompok seperti itu; ini tentunya menyangkut bermacam-macam hal. Pada kawasan dimana tingkat pelanggaran tinggi, seorang anak laki-laki yang pandai bergaul, suka berteman, aktif dan atletis akan sangat suka berinteraksi dengan anak laki-laki di lingkungan tetangganya, mempelajari prilaku pelanggaran dari mereka, dan menjadi pelaku kriminal; dalam lingkungan tetangga yang sama, anak laki-laki yang sakit, terpencil, introvert, dan lemah akan tinggal di rumah, tidak bergaul dengan anak laki-laki di sekitar tetangganya dan tidak menjadi pelaku penyimpangan. Pada situasi yang lain, anak laki-laki yang pandai bergaul, atletis, dan agresif akan menjadi anggota pasukan intelijen dan tidak termasuk kedalam prilaku menyimpang. Kelompok seseorang ditentukan, secara konteks umum, dengan organisasi social. Anak yang biasa diasuh oleh keluarga; rumah tempat tinggal keluarga lebih banyak ditentukan oleh pendapatan keluarga; dan tingkat penyimpangan dalam banyak hal berhubungan dengan penghasilan yang ada di rumah. Beberapa aspek organisasi sosial lain mempengaruhi jenis kelompok yang dimiliki seseorang.

Penjelasan tentang prilaku kriminal di atas bertujuan untuk menerangkan prilaku kriminal dan non kriminal individual seseorang. Sebagaimana diterangkan sebelumnya, memungkinkan untuk menjabarkan teori-teori sosiologis dari prilaku kriminal yang menjelaskan kriminalitas masyarakat, Negara atau kelompok lain. Masalahnya, ketika ini dijabarkan, berarti menjelaskan juga berbagai tingkat kriminal dan mencakup perbandingan tingak kriminal dari berbagai kelompok atau tingkat kriminal dari kelompok tertentu pada kurun waktu yang berbeda. Pemaparan tentang tingkat kriminal harus konsisten dengan pemaparan tentang prilaku kriminal seseorang, selama tingkat kriminal diasumsikan sebagai kesimpulan berdasarkan sejumlah orang dalam kelompok yang melakukan tindak kriminal dan sering mengulanginya. Salah satu pemaparan terbaik tentang tingkat kriminal dari sudut pandang ini bahwa tingginya tingkat kriminal disebabkan oleh kesalahan organisasi sosial. Istilah kesalahan organisasi sosial sama sekali tidak disukai, dan lebih suka menggantinya dengan istilah perbedaan organisasi sosial. Postulat yang dijadikan dasar oleh teori ini, tanpa mempedulikan nama, bahwa tindak kriminal berakar pada organisasi sosial dan kebutahan dari organisasi sosial tersebut. Suatu kelompok akan dibentuk untuk prilaku kriminal atau melawan prilaku kriminal. Kebanyakan masyarakat dibentuk untuk keduanya, prilaku kriminal dan non kriminal, dan, dalam persepsi ini tingkat kriminal merupakan suatu gambaran dari perbedaan organisasi kelompok. Perbedaan organisasi sosial merupakan sebuah penjelasan dari bermacam-macam tingkat kriminal yang konsisten dengan teori Perbedaan Asosiasi (asosiasi) tentang proses seseorang menjadi kriminal.

II. Bom Bali I

12 Oktober 2002 terjadi pengeboman di Bali yang melibatkan tiga orang terpidana mati yaitu Mukhlas, Imam Samudra dan Amrozi. Untuk melihat sepintas pemaparan kejadiannya berikut deskripsi yang dikutip dari Koran Harian KOMPAS, Kamis, 10 Juli 2003

Denpasar, Kompas – Meskipun keterangannya dibantah terdakwa Ali Ghufron alias Muklas, tersangka kasus bom Bali, Ali Imron alias Alik, tetap mengakui peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 telah direncanakan sejak pertemuan di Solo, Jawa Tengah, bulan Agustus 2002. Selain Ali Imron dan Muklas, pertemuan itu dihadiri pula oleh Abdul Aziz alias Imam Samudra, Amrozi, Idris alias Jhoni Hendrawan, Abdul Goni alias Umar Besar, dan dua tersangka lain yang masih buron, Dul Matin dan Zulkarnaen.

Keterangan itu disampaikan Ali Imron dalam persidangan kasus bom Bali di Aula Gedung Wanita Nari Graha, Renon, Denpasar, Rabu (9/7), dengan terdakwa Muklas, yang merupakan kakak kandung saksi. Selain Ali Imron, jaksa mengajukan tiga terdakwa kasus serupa, yaitu Amrozi bin H Nurhasyim, Hutomo Pamungkas alias Mubarok, dan Bambang Setiono alias Saeful Suroso, serta dua polisi, yaitu Ajun Komisaris Herlan Susilo dari tim reserse Kepolisian Kota Besar Denpasar dan Rudi Aristafif Puspito dari Laboratorium Forensik Cabang Denpasar, sebagai saksi dalam persidangan kemarin.

“Pernah dibicarakan jihad, termasuk jihad di Bali dalam pertemuan di Solo bulan Agustus 2002, yang bertempat di rumah Hernianto (terdakwa bom Bali yang juga menantu Zulkarnaen),” kata Ali Imron dalam kesaksiannya tanpa disumpah. Dalam pertemuan itu juga dibahas tugas masing-masing terdakwa, antara lain Amrozi sebagai penyedia transportasi serta bahan-bahan kimia, dan saksi membantu Amrozi. “Terdakwa tidak disebutkan tugasnya,” kata adik kandung Muklas.

Selanjutnya, Ali Imron menjelaskan kronologi perjalanan mereka ke Bali pada bulan September 2002 dan bulan Oktober 2002 serta jenis dan jumlah bahan peledak serta skenario peledakan ketiga bom, masing- masing di dekat Kantor Perwakilan Konsulat Amerika Serikat di Renon, Denpasar, di Paddy’s Pub, dan di depan Sari Club Jalan Raya Legian Kuta, Badung. Diakui pula, terdakwa menugaskan saksi untuk membawa bom trinitrotoluena (TNT) seberat lima kilogram dan meletakkannya di dekat Kantor Perwakilan Konsulat AS di Renon.

Muklas membantah keterangan adiknya itu dan mengatakan bahwa tidak benar rapat di rumah Zulkarnaen (masih buron) itu sebagai pertemuan perencanaan peledakan bom di Bali. Sebelumnya, Muklas juga menyatakan keberatan atas diajukannya Ali Imron sebagai saksi dalam persidangan.

Selain Ali Imron, dua terdakwa lainnya-Mubarok dan Bambang Setiono-bersedia menjadi saksi atas terdakwa dan memberikan keterangan mereka. Sementara Amrozi menolak disumpah dan bersaksi dengan alasan hak tersebut diatur Pasal 168 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Karena Amrozi menolak, jaksa penuntut umum Putu Indriati membacakan kesimpulan berita acara pemeriksaan (BAP) Amrozi dalam persidangan kemarin.

Pengadilan Negeri Denpasar menggelar dua sidang kasus serupa di Gedung PN Denpasar, masing-masing atas terdakwa Musyafak dan Bambang Setiono. Ali Imron juga diajukan sebagai saksi atas terdakwa Musyafak. Sementara Musyafak dan Makmuri menolak bersaksi dalam persidangan Bambang Setiono sehingga jaksa hanya membacakan BAP.

Dalam persidangan kemarin juga terungkap drama penangkapan Muklas. Saksi Herlan mengatakan, Muklas sempat melawan selama 15 menit dan hampir merebut senjata petugas saat dia ditangkap. (cok)

Tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, yaitu Mukhlas, Imam Samudra, dan Amrozi, menyatakan siap menjalani eksekusi mati kapanpun setelah upaya Peninjauan Kembali (PK) kasusnya ditolak oleh Mahkamah Agung pada pekan ketiga September lalu.  “Saat ini adalah saat paling membahagiakan bagi kami bertiga karena kami sebentar lagi akan mati syahid,” ujar Mukhlas dalam wawancara khusus dengan Tempo di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, Jawa Tengah, seusai solat Jumat lalu. “Jika seluruh kenikmatan dunia diletakkan pada tangan kami, itu belum bisa menggantikan kebahagiaan kami,” Katanya.  Sejak masuk penjara dengan pengamanan super maksimum itu pada oktober 2005, para pelaku pengeboman yang menewaskan lebih dari 200 orang tersebut dijaga amat ketat. Meski demikian, tak tampak adanya kegundahan dari ketiganya saat ditemui tengah melakukan aktifitas harian mereka di penjara. Kabar mengenai waktu eksekusi terhadap Amrozi cs memang sempat simpang siur. Seorang pejabat di Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah yang menolak disebut namanya memastikan ketiga terpidana akan dieksekusi tahun ini.

Kuasa hukum ketiganya dari Tim Pembela Muslim, Achmad Michdan dengan tegas menolak putusan MA yang tak mengabulkan PK yang mereka ajukan.

III. Analisis Kasus

Memahami kejadian bom bali I pada tanggal, maka teori perbedaan asosiasi dapat digunakan sebagai alat analisis tindakan kriminal ini. Merujuk kepada pendapat Edwin H Sutherland dan Donald R Cressey, penerapan premis-premis terhadap kasus bom bali I ini adalah:

  1. Prilaku kriminal itu dipelajari. Para pelaku pengeboman mempelajari cara-cara merakit bom, mempelajari situasi tempat yang menjadi sasaran pengeboman, strategi teknis pelaksanaannya, cara bagaimana terlepas dari penjagaan, bagaimana menghilangkan jejak dan cara-cara lainnya untuk mendukung tindakan tersebut.
  2. Prilaku kriminal itu dipelajari melalui interksi dengan orang lain dalam proses komunikasi. Latar belakang Amrozi cs hidup dalam lingkungan keagamaan yang menganggap bahwa orang asing (dalam hal ini Australia dan Amerika) adalah musuh besar Islam yang harus dilawan melalui jihad. Selain itu mereka juga berhubungan dengan golongan radikal lainnya yang mengatasnamakan jihad sebagai salah satu jalan melawan penindasan Amerika dan sekutunya. Dengan demikian makan terjadilah interaksi antara Amrozi cs dengan lingkungannya.
  3. Bagian penting dalam pembelajaran prilaku kriminal timbul bersama dengan keakraban kelompok seseorang. Para pelaku bom sangat akrab antar anggota kelompoknya, baik dengan jaringan radikal nasional ataupun internasional. Melalui komunikasi jarak dekat atau jarak jauh yang memungkinkan para pelaku melakukan kontak langsung untuk melakukan aksinya.
  4. Ketika prilaku kriminal dipelajari, pembelajaran tersebut meliputi: a. cara-cara melakukan tindak kriminal, yang kadang sangat komplek dan kadang sangat mudah; b. petunjuk-petunjuk khusus motif, dorongan, alasan dan bersikap. Cara-cara merakit, meledakan, menyusun rencana dan hal lain yang berhubungan dengan pengeboman mereka pelajari sebelum terjadi pengeboman. Begitu pula motif dan dorongan mereka dalam melakukannya untuk melawan Amerika dan sekutunya dengan yang mereka anggap jihad.
  5. Petunjuk khusus tentang motif dan dorongan dipelajari dari definisi perundang-ungangan yang menguntungkan dan tidak menguntungkan. Masuknya warga asing (Amerika dan sekutunya) ke dalam negeri dimana mayoritas penduduk adalah muslim dianggap sebagai bentuk penjajahan yang harus diusir dari negeri ini. Sedangkan secara umum negara tidak memberikan celah hukum yang sesuai dengan pendangan para pelaku pengeboman Bali. Untuk merealisasikan pendapatnya, maka cara satu-satunya yang dapat ditempuh adalah kekerasan.
  6. Seseorang menjadi bersalah karena lebih banyaknya yang suka melanggar hukum daripada yang tidak suka melanggar. Dalam lingkungannya yang radikal Amrozi cs akan merasa bersalah jika dia tidak mengikuti pandangan-pandangan teman-teman atau atasan-atasannya dalam kelompok dimana mereka berada. Dengan demikian maka semangat untuk membuktikan loyalitas mereka terhadap kelompok semakin kuat.
  7. Perbedaan Asosiasi berbeda dalam frekuensi, durasi, prioritas dan intensitas. Interaksi Amrozi cs dengan kelompoknya lebih intens dari pada anggota kelompok lain yang hanya ikut-ikutan saja. Hal ini dikarenakan sejak kecil ia hidup dan berhubungan dengan lingkungan yang mendukung anggapan bahwa pengeboman warga Amerika dan sekutunya adalah jihad yang akan menjadikan mereka mulia di sisi Tuhan dan kelompoknya.
  8. Proses pembelajaran prilaku kriminal oleh kelompok dengan pola kriminal dan non kriminal termasuk seluruh mekanisme yang ada dalam setiap pembelajaran yang lain. Jelas bahwa para pelaku pengeboman memperlajari bagaimana menyusun rencana pengeboman sejak awal. Mekanisme pembelajarannya tidak berbeda dengan mekanisme pembelajaran di lingkungan non kriminal, seperti sekolah dan lembaga pendidikan non formal.
  9. Ketika prilaku kriminal dilakukan sebagai wujud keinginan seseorang terhadap kebutuhan dan nilai-nilai umum, prilaku kriminal tidak digambarkan oleh kebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut, sedangkan prilaku non kriminal merupakan gambaran kebutuhan dan nilai-nilai yang sama. Amrozi cs melakukan tindakan pengeboman itu karena menginginkan penghargaan dari kelompoknya atau dari Tuhannya, bukan untuk memenuhi kebutuhan akan materi atau kekayaan.


[1] Edwin H Sutherland; Donald R Cressey

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: