Beranda > Hukum Ekonomi Politik, Tugas Kelompok, Tulisan Lain > Pasar Modal Dalam Perspektif Ekonomi Islam

Pasar Modal Dalam Perspektif Ekonomi Islam

Oleh: Ratu Ayu Rahmi

I. Pendahuluan

Aktifitas pasar modal di Indonesia dimulai sejak tahun 1912 di Jakarta. Efek yang diperdagangkan pada saat itu adalah saham milik perusahaan orang Belanda dan obligasi yang diperdagangkan adalah obligasi milik pemerintah Hindia Belanda. Aktifitas pasar modal ini berhenti ketika terjadi perang dunia kedua. Ketika Indonesia merdeka, pemerintah menerbitkan obligasi pada tahun 1950. Pengaktifan pasar modal di Jakarta ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-undang Darurat tentang bursa nomor 13 tahun 1951 yang kemudian ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1952 yang berkaitan dengan pasar modal.

Pasar modal (capital market) harus dibedakan dengan pasar uang (money market). Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai insturumen keuangan jangka panjang yang biasa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri sedangkan pasar uang (money market) pada sisi yang lain merupakan pasar surat berharga jangka pendek. Baik pasar modal maupun pasar uang merupakan bagian dari pasar keuangan (financial market). Selain dari itu, di pasar modal diperjualbelikan instrumen keuangan seperti saham, obligasi, waran, right, obligasi konventibel dari berbagai produk turunan (derivatif) seperti obsi (pur or call), sedangkan pasar uang yang diperjualbelikan antara lain Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SPBU), Commercial Paper Notes, Call Money, Repurchase Agreement, Banker’s Acceptence, Treasury bills, dan sebagainya.

Dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal dijelaskan lebih spesifik sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan berfungsi ekonomi karena pada pasar modal disediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana ( investor) dan pihak yang memerlukan dana ( issuer). Dengan adanya pasar modal maka perusahaan publik dapat memperoleh dana segar masyarakat melalui penjualan Efek Saham melelaui prosedur IPO atau efek utang (obligasi). Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik yang dipilih. Jadi diharapkan dengan adanya pasar modal, aktivitas perekonomian akan meningkat karena pasar modal itu merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan untuk dapat meningkatkan pendapatan perusahaan yang pada akhirnya memberikan kemakmuran bagi masyarakat.

Pemikiran untuk mendirikan pasar modal syari’ah dimulai sejak munculnya insturumen pasar modal yang menggunakan prinsip syari’ah yang berbentuk reksadana syari’ah. Usaha ini baru bisa terlaksana pada tanggal 14 Maret 2003 dengan dibuka secara resmi pasar modal Syari’ah oleh Menteri Keuangan Boediono dan didampingi oleh Ketua Bapepam Herwidayatmo, wakil dari Majelis Ulama Indonesia dan wakil dari Dewan Syari’ah Nasional serta Direksi SRO, Direksi Perusahaan Efek, pengurus organisasi pelaku dan asosiasi profesi di pasar Indonesia. Peresmian pasar modal syari’ah ini menjadi sangat penting sebab Bapepam menetapkan pasar modal syari’ah dijadikan prioritas kerja lima tahun ke depan sebagaimana dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia tahun 2005-2009. Dengan program ini pengembangan Pasar Modal Syari’ah memiliki arah yang jelas dan semakin membaik.

Ada beberepa alasan yang mendasari pentingnya keberadaan sebuah pasar modal yang berbasis Islam, yakni[1] pertama: Harta yang melimpah jika tidak diinvestasikan pada tempat yang tepat sangat disayangkan . Selama ini harta yang melimpah banyak diinvestasikan di negara-negara non Muslim, kedua: fuqaha dan pakar ekonomi Islam telah mampu membuat surat-surat berharga yang berlandaskan Islam sebagai alternatif bagi surat-surat berharga yang beredar dan tidak sesuai dengan hukum Islam, ketiga: melindungi para penguasa dan pebisnis Muslim dari ulah para spekulan ketika melakukan investasi atau pembiayaan pada surat-surat berharga, keempat: memberikan tempat bagi lembaga keuangan Islam dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknik perdagangan. Sekaligus melakukan aktivitas yang sesuai dengan syari’ah.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, pada tanggal 4 Oktober 2003 Dewan Syari’ah Nasional (DSN) telah mengeluarkan fatwa Nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syari’ah di bidang Pasar Modal. Fatwa ini dikeluarkan mengingat Pasar Modal di Indonesia telah lama berlangsung dan perlu mendapat kajian dan perspektif hukum Islam. Beberapa dasar hukum atas pelaksanaan pasar modal ini harus sesuai dengan QS An-Nisa’ ayat 29, Al–Maidah ayat 1 dan Al-Jumu’ah ayat 10 serta beberapa hadist Rasulullah saw.

II. Struktur Pasar Modal Indonesia

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal menyebutkan ada beberapa lembaga yang terkait dengan operasional pasar modal di Indonesia, diantaranya:

  • Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)

Sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 503/KMK.01/1997 disebutkan bahwa Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) melaksanakan tugas di bidang pembinaan dan pengawasan kegiatan pasar modal yang berada di bawah pertanggungjawaban langsung kepada Menteri Keuangan dan dipimpin oleh seorang Ketua.

  • Bursa Efek

Yang dimaksud dengan Bursa Efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka. Berdasarkan ketentuan ini, dapat diketahui bahwa bursa efek adalah lembaga atau perusahaan yang menyelenggarakan atau menyediakan fasilitas sistem pasar untuk mempertemukan penawaran jual beli efek antara berbagai perusahaan atau perorangan yang terlibat dalam tujuan memperdagangkan efek perusahaan-perusahaan yang telah tercatat di bursa efek.

Di Indonesia pada awalnya terdapat dua bursa efek yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang pada tahun 2008 diunifikasikan menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terletak di Jakarta. Yang menjadi pemegang saham bursa efek adalah perusahaan yang telah memperoleh izin usaha sebagai perantara pedagang efek.

  • Perusahaan Efek

Yang dimaksud dengan perusahaan efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek, perantara pedagang efek dan atau manejer investasi.

  1. Penjamin emisi, yakni perusahaan sekuritas yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan penawaran umum bagi kepentingan emiten tersebut. Dalam kontrak ini pihak penjamin emisi dapat memilih dua bentuk penjaminan yaitu, bentuk offert (penjamin emisi hanya menjual sebatas yang laku saja), dan full commitment (penjamin emisi menjamin penjualan seluruh saham yang ditawarkan, bila ada yang tidak terjual, maka penjamin emisi harus membelinya).
  2. Perantara pedagang efek, yakni perantara pedagang efek (disebut juga broker), istilah ini mengandung dua makna, pertama: perantara dalam jual beli efek, karena investor tidak melakukan kegiatan jual beli secara langsung tanpa melalui perantara atau broker ini, kedua: pedagang efek, disamping bertindak sebagai perantara, maka perusahaan efek juga dapat melakukan aktivitas jual beli saham untuk kepentingan perusahaan efek tersebut. Perusahaan efek dapat dibedakan menjadi (1) Perusahaan Efek Nasioanal, perusahaan yang seluruh efek sahamnya dimiliki orang perseorangan warga negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia. (2) Perusahaan Efek Patungan (joint venture), perusahaan efek yang sahamnya dimilki orang perseorangan warga Indonesia, badan hukum Indonesia atau badan hukum asing yang bergerak dibidang keuangan.
  3. Manejer investasi, adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola portpolio efek untuk para nasabah atau pengelola portpolio kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di pasar modal. Dana nasabah yang terkumpul itu kemudian diinvestasikan pada macam-macam jenis efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap derivative dari efek.
  • Lembaga Kliring dan Penjamin (LKP)

Lembaga ini terdiri dari dua macam yaitu lembaga penunjang dan lembaga profesi penunjang terdiri dari beberapa macam lembaga , yakni:

  1. Biro administrasi efek adalah pihak yang berdasarkan kontrak dengan emiten melaksanakan pencatatan pemilikan efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan efek.
  2. Bank Kustodian, adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain yang berkaitan dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima deviden, bunga dan hak lain-lain, menyelasaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.
  3. Wali Amanat, adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat utang, dan seluruh kepentingan pemegang obligasi. Selain dari itu, wali amanat juga berperan sebagai peminpin dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO). Kewajiban utama wali amanat mewakili para pemegang obligasi dan surat utang, baik di dalam maupun di luar pengadilan mengenai pelaksanaan hak-hak pemegang obligasi atau sekuritas utang sesuai dengan syarat-syarat emisi, kontrak perwaliamanatan atau berdasarkan perundang-undangan yang berlaku
  4. Penasehat investasi adalah pihak yang memberikan nasehat kepada, pihak lain mengenai penjualan atau pembelian efek dengan memperoleh imbalan jasa. Untuk perorangan disebut dengan wali manejer invstasi.
  5. Pemeringkat efek, yaitu perusahaan swasta yang melakukan peringkat/rangking atas efek yang bersifat utang (seperti obligasi). Tujuan dari peringkatan ini adalah untuk memberikan pendapat mengenai resiko suatau efek utang.

Selain dari hal tersebut di atas, dalam lembaga kliring dan penjamin, juga terdapat pembagian yang disebut dengan profesi penunjang. Lembaga penunjang ini terdiri dari:

  1. Akuntan. Dalam suatu penawaran umum, akuntan mempunyai tugas utama untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan emiten menurut standar audit dan laporan keuangan emiten menurut standar audit yang ditetapkan oleh IAI (Ikatan AKutansi Indonesia). Audit ini diperlukan untuk mendapatkan suatu kelayakan bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari segala masalah akuntan dalam hal ini bertanggung jawab penuh atas pendapat yang diberikan terhadap laporan yang diambil.
  2. Konsultan Hukum, dalam suatu penawaran umum, konsultan hukum bertugas untuk memberikan opini dari segi hukum. Konsultan hukum ini bertugas untuk melakukan pemeriksaan atas fakta hukum yang ada mengenai emiten.
  3. Penilai. Penilai berperan untuk menentukan nilai wajar aktiva perusahaan bersangkutan.
  4. Notaris. Dalam emisi saham, notaris berperan dalam membuat akta perubahan anggaran dasar emiten dan apabila diinginkan oleh para pihak, notaris juga berperan dalam pembuatan perjanjian penjamin emisi efek dan perjanjian dengan agen penjual[2].
  • Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian

Lembaga ini adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan kustodian sentral bagi Bank Kustodian, Perusahaan Efek dan pihak lain. Ada dua macam lembaga ini yaitu perusahaan emiten reksadana.

  1. Perusahaan emiten, adalah pihak yang melakukan kegiatan penawaran umum. Jadi emiten ini mengacu kepada kegiatan yang dilakukan perusahaan yang menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat investor melalui penawaran umum pada pasar perdana. Saham yang telah dijual kepada investor akan diperjualbelikan kembali antara investor melalui Bursa Efek.
  2. Reksadana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memilki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung atas resiko investasi mereka. Reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal dan mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, tetapi pemilik modal hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain dari itu reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal[3].

Tabel Struktur Pasar

Struktur Pasar Modal

III. Penawaran Umum

Penawaran umum[4] atau go publik adalah kegiatan penawaran saham atau efek lainnya yang dilakukan oleh emiten (perusahaan yang akan go publik) untuk menjual saham atau efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya. Penawaran meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  1. Periode pasar perdana yaitu ketika efek ditawarkan kepada pemodal dan penjamin emisi melalui para agen penjual yang ditunjuk.
  2. Penjatahan saham yaitu pengelokasian efek pesanan para pemodal sesuai dengan jumlah efek yang tersedia.Pencatatan efek di bursa, yaitu saat efek tersebut mulai diperdagangkan di Bursa.

Adapun tahapan-tahapan dalam penawaran umum adalah:

  1. Sebelum emisi, yaitu berisi persiapan-persiapan yang dilakukan untuk memenuhi persyaratan penawarann umum.
  2. Tahapan emisi, yaitu masa dimana dilakukan penawaran umum hingga saham-saham yang telah ditawarkan dicatat di Bursa Efek.
  3. Tahapan sesudah emisi, yaitu tahapan pelaporan sebagai konsekuensi atas penawaran umum tersebut.

Tahapan penawaran umum tersebut selanjutnya dapat diilustrasikan dalam gambar berikut:

Sebelum Emisi ==> Emisi ==> Setelah Emisi

Intern Perusahaan

BAPEPAM

Pasar Perdana Pasar Sekunder

Pelaporan

Rencana go publik,RUPS Menunjukkan:
Underwriter
Profesi Penunjang
Lembaga Penunjang
Mempersiapkan dokumen-dokumen
Konfirmasi sebagai agen penjual oleh penjamin
Kontrak pendahuluan dengan bursa efek
Penandatanganan perjanjian-perjanjian
Public Expose
Pernyataan Pendaftaran
Expose sebatas di BAPEPAM.
Tanggapan atas:- Kelengkapan dokumen

- Kecukupan dan kejelasan informasi

- Keterbukaan (aspek hokum, akutansi, keuangan dan manajemen

Komentar tertulis dalam waktu 45 hari
Pernyataan pendaftaran yang efektif

Penawaran Umum
Penjatahan KepadaOleh sindikasiPenjaminEmisi dan emitenDistribusi efek kepada pemodal secara elektronik
Emiten mencatatkan sahamnya di bursa efek 1.Laporan berkala, misalnya laporan tabungan dan laporan tengah tahunan
2. Laporan kejadian penting dan relevan misalnya akuisisi pergantian direksi

IV. Pasar Modal dan Pasar Uang Syari’ah

Sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu bahwa ada perbedaan yang jelas antara pasar modal dengan pasar uang dalam dunia investasi. Yang dimaksud dengan pasar modal adalah semua kegiatan yang bersangkutan dengan perdagangan surat-surat berharga yang telah ditawarkan kepada publik yang akan/ telah diterbitkan oleh emiten sehubungan dengan penanaman modal atau peminjam uang dalam jangka menengah/panjang termasuk instrumen derivatifnya. Sedangkan pasar uang pada sisi yang lain merupakan pasar surat berharga jangka pendek seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SPBU), Commercial Paper Notes (CPN) dan sebagainya.

Dari pengertian di atas tersebut dapat diketahui bahwa pasar modal syari’ah adalah pasar modal yang dijalankan dengan prinsip-prinsip syari’ah, setiap transaksi surat berharga di pasar modal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Sedangkan pasar uang syari’ah adalah pasar yang dimana diperdagangkan surat berharga yang diterbitkan sehubungan dengan penempatan atau peminjaman uang dalam jangka pendek dan memanage likuiditas secara efesien, dapat memberikan keuntungan dan sesuai dengan syari’ah. Dana ini bisa dimiliki masyarakat yang hanya ingin menanamkan modalnya dalam jangka pendek serta lembaga keuangan lainnya yang memiliki kelebihan likuiditas sementara yang bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.

Pertama kali lembaga keuangan yang concern didalam mengoperasionalkan portfolio syari’ah di pasar modal adalah Amanah Income Fund yang didirikan pada bulan Juni 1986 oleh para anggota The North American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat. Tidak lama kemudian wacana membangun pasar modal yang berbasis syari’ah disambut dengan antusias oleh para pakar ekonomi Muslim di Kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia, dan juga wilayah AS yang lain. Beberapa negara yang pro aktif dalam menyambut kedatangan para investor muslim maupun investor yang ingin memanfaatkan pasar modal yang berprinsip syari’ah adalah Bahrain Stock di Bahrain, Amman Financial Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock Exchange di Kuwait dan KL Stock Exchange di Kuala Lumpur Malaysia[5].

Pasar syari’ah tidak hanya berkembang di negara-negara yang mayoritas muslim, tetapi berkembang juga di negara-negara sekuler yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bursa Efek dunia New York Stock Exchange meluncurkan produk yang bernama Dow Jones Islamic Market Index (DJIMI) pada bulan Februari 1999. Untuk menjaga agar investasi yang dilakukan oleh pasar modal syari’ah ini aman dari hal-hal yang bertentangan dengan prinsip syari’ah, maka dibentuklah Dewan Pengawas Syari’ah yang disebut dengan nama Syari’ah Supervisory Board. Perkembangan lembaga keuangan syari’ah dalam bentuk investasi di Pasar Modal Syari’ah di berbagai negara disambut baik oleh para pakar ekonomi muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang ditandai dengan Jakarta Islamic Indeks pada tahun 2000. Demikian juga pasar uang yang berbasis syari’ah, di Malayisa dan Sudan sudah mulai dioperasikannnya pasar modal. Segala macam surat berharga dengan prinsip syari’ah dan tidak boleh adanya praktek investasi yang bersifat penipuan, kezaliman, unsur riba, insider trading, window dressing dan segala transaksi yang tidak jujur lainnya. Negara Yordania juga sudah menerapkan pasar uang syari’ah dengan mengeluarkan Mutual Loan Bonds (MLB) untuk membiayai segala kegiatan pemerintah. IDB juga menerbitkan Trusts Invesment Units Funds dan Islamic Bank Portfolio for Trade Finance. Dalam pasar uang syari’ah di Indonesia dikenal dengan Pasar Uang Antar Bank berdasarkan prinsip Syari’ah (PUAS). Sedangkan piranti yang dipergunakan dalam pasar uang syari’ah ini adalah dalam bentuk Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (IMA) dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI).

Dalam rangka merespon segala hal yang berhubungan dengan investasi syari’ah sebagai akibat pesatnya perkembangan ekonomi syari’ah di seluruh dunia, di Jakarta dibentuk Jakarta Islamic Index (JII) yang dikeluarkan oleh PT Bursa Efek Jakarta pada tanggal 3 Juli 2000. Perusahaan-perusahaan (emiten) yang kegiatan utamanya tidak sesuai dengan syari’ah maka akan dikeluarkan dari kelompok JII. Bagi perusahaan yang telah didaftar di JII paling tidak perusahaan tersebut telah memenuhi filter dari prinsip-prinsip syari’ah dan sudah terpenuhi kriteria untuk indeks yang telah ditetapkan. Sedangkan tolak ukur filter syari’ah adalah usaha emiten bukan usaha perjudian, tidak menggunakan unsur ribawi sebagaimana dalam investasi konvensional, bukan emiten yang mendistribusikan dan memproduksi barang-barang haram, atau barang-barang yang merusak moral bangsa.

Prinsip Pasar Modal Syari’ah[6]

Penyebab Haramnya Transaksi Implikasi di Pasar Modal
Li Dzatihi Efek yang diperjualbelikan harus merupakan representasi dari barang dan jasa yang halal
Li Ghairi Tadlis 1. Keterbukaan/transparansi Informasi

2. Larangan terhadap informasi yang menyesatkan.

Riba Fadhl Larangan terhadap transaksi yang mengandung ketidakjelasan objek yang ditransaksikan, baik dari siis pembeli maupun penjual
Riba Nasiah Larangan atas pertukaran efek sejenis dengan nilai nominal berbeda
Riba Jahiliyah Larangan atas short selling yang mentapkan bunga atas pinjaman
Bai’ Najasy Larangan melakukan rekayasa permintaan untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal, dengan cara menciptakan false demand
Ikhtikar Larangan melakukan rekayasa penawaran untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal, dengan cara mengurangi supply agar harga jual naik
Tidak sah akad Rukun&Syarat Larangan atas semuja investasi yang tidak dilakukan secara sport
Ta’alluq Transaksi yang settlementnya dikaitkan dengan transaksi lainnya (menjual saham dengan syarat)
2 in 1 Dua transaksi dalam satu akad, dengan syarat:

1. Objek sama

2. Pelaku sama

3. Periode sama

V. Investasi di Pasar Modal Syari’ah

Dilihat dari sisi syari’ah Islam, pasar modal adalah salah satu produk muamalah. Transaksi di dalam pasar modal menurut syari’ah tidak dilarang (dibolehkan) sepanjang tidak terdapat transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syari’ah Islam. Diantara yang dilarang oleh syari’ah Islam dalam melakukan transaksi bisnis adalah transaksi yang mengandung riba sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 275 yang menyatakan bahwa Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Oleh karena itu semua transaksi di pasar modal yang terdapat di dalamnya unsur riba maka transaksi itu dilarang.

Syari’ah Islam juga melarang transaksi yang di dalamnya terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang di dalamnya dimungkinkan terjadi penipuan, karena itu gharar termasuk dalam pengertian memakan harta orang lain secara batil atau tidak sah. Termasuk dalam pengertian ini adalah penawaran palsu, karena itu Rasulullah saw melarang transaksi yang dilakukan melalui penawaran palsu. Demikian juga transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling) atau bai’un malaisa bimamluk, demikian juga transaksi atas segala sesuatu yang belum jelas. Juga transaksi yang dilarang adalah transaksi yang didapatkan melalui informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam bentuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena investasi di pasar modal tidak selalu sesuai dengan ketentuan syari’ah Islam, maka berinvestasi di pasar modal harus dilakukan dengan sangat selektif dan dengan sangat hati-hati, sehingga tidak masuk dalam investasi yang bertentangan dengan syari’ah[7].

Menurut Pontjowinoto[8] ada beberapa prinsip dasar transaksi menurut syari’ah dalam melaksanakan investasi keuangan, yakni:

  1. Transaksi dilakukan hendaknya atas harta yang memberikan nilai manfaat dan menghindari setiap transaksi yang dzalim. Setiap transaksi yang memberikan manfaat akan dilakukan bagi hasil atau hasil usaha.
  2. Uang sebagai alat pertukaran, bukan komoditas perdagangan dimana fungsinya adalah sebagai alat pertukaan nilai yang menggambarkan daya beli suatu barang atau harta. Sedangkan manfaat atau keuntungan yang ditimbulkannya berdasarkan atas pemakaiaan barang atau harta yang telah dibeli dengan uang tersebut.
  3. Setiap transaksi harus transparan, tidak menimbulkan kerugian atau unsur penipuan disalah satu pihak, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Diharamkan prakter insider trading.
  4. Resiko yang mungkin timbul harus dikelola secara hati-hati, sehingga tidak menimbulkan resiko yang lebih besar atau melebihi kemampuan menanggung resiko (maysir),
  5. Transaksi dalam syari’ah Islam yang mengharapkan hasil, setiap pelaku harus bersedia menanggung resiko.
  6. Manajemen yang diharapkan adalah manajemen Islami yang tidak mengandung unsur spekulatif dan menghormati hak asasi manusia serta menjaga lestarinya lingkungan hidup.

Melihat kriteria investasi yang dikemukakan di atas, maka dapat dketahui bahwa tidak semua orang atau perusahaan dapat berinvestasi di pasar uang atau pasar modal syari’ah. Transaksi investasi baru dapat dilaksanakan kalau kriteria sebagaimana tersebut di atas dapat dipenuhi. Kriteria yang dikemukakan oleh fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) untuk melaksanakan investasi syari’ah sebagai berikut: pertama: perusahaan yang bergerak dalam bidang industri yang halal, tidak dibenarkan perusahaan yang bergerak dalam industri yang memproduksi alkohol, jasa keuangan ribawi, judi, perusahaan senjata gelap, pornografi dan sebagainya. Kedua: perusahaan yang mendapatkan dana pembiayaan atau sumber dananya dari utang tidak lebih dari 30% dari rasio modalnya, ketiga: pendapatan bunga yang diperoleh perusahaan tidak lebih dari 15 %, keempat : perusahaan yang memiliki aktiva kas atau piutang yang jumlah piutang dagangnya atau total piutangnya tidak lebih dari 50%.

Pada mulanya fatwa DSN ini disambut dengan penuh ragu oleh perusahaan investasi. Perusahaan yang pertamakali memperaktekkan kriteria DSN adalah Dewan Syari’ah Jones Islamic Index. Perusahaan ini meyakinkan para investor Islam bahwa beberapa kegiatan perusahaannya telah bebas dari unsur ribawi atau hal-hal yang bertentangan denga syari’ah. Kriteria DSN yang dipraktekkan oleh perusahaan ini tidak luput dari serangan kritik pengamat ekonomi Islam yang berpendirian bahwa Islam tidak dapat mentolelir bunga jenis apapun dan dengan alasan apapun. Meskipun demikian, usaha yang dilakukan oleh perusahaan ini disambut baik oleh lembaga keuangan Islam, perusahaan non Islami dan individu-individu yang menginginkan kerjasama atau investasi yang dikelola secara syari’ah. Diharapkan, dalam kurun waktu mendatang dapat menghapus semua praktek bisnis yang tidak Islami.

Tabel Saham yang Masuk Indeks Syari’ah

No Kode Nama Saham
1. AALI Astra Argo Lestari Tbk
2. APEX Apexindo
3. AMFG Asahimas Flat Glass
4. ANTM PT Aneka Tambang (persero) Tbk
5. ASGR Astra Graphia Tbk
6. AUTO Astra Otopart Tbk
7. BLTA Berlian Laju Tangker
8. BNBR Bakrie7 Brothers
9. CMNP Citra Marga Nusaphala Tbk
10. BYMA Prima Rindo Asia Infras
11. Esti Evershine
12 Foru Fortuner Indonesia
13. GJTL Gajah Tunggal
14 INDF Indofood Sukser Makmur Tbk
15 INDR Indodarma Syntetic
16. ISAT Indosat Tbk
17 LMAS Limas
18 MEDC Medco Energy Corperation Tbk
19 MLPL Multipolar Tbk
20 MTDL Metro Data Electronics Tbk
21 MYOR Mayora
22 SMGR Semen Gresik (peresero) Tbk
23 SMSM Selamat Sampoerna
24 SMCB Semen Cibinong
25 TINS PT Timah Tbk
26 TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk
27 TSCP Tempo Scan Pacifik Tbk
28 TRST Tria Sentosa
29 UNTR United Tractors Tbk
30 UNVR Unilever

VI. INSTRUMEN PASAR MODAL SYARI’AH

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa instrumen yan diperdagangkan adalah surat pengakuan utang dan surat berharga komersial seperti saham, obligasi, right, warrant, option dsb. Demikian juga yang berlaku di pasar modal syari’ah, tetapi instrumen tersebut sudah disesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah, terutama prinsip bagi hasil.

Instrumen pasar modal syari’ah dikelompokkan kedalam tiga kategori yaitu pertama: sekuritas asset/proyek aset (asset securitisation) yang merupakan bukti penyertaan, baik dalam bentuk penyertaan musyarakah (management share). Penyertaan musyarakah adalah yang mewakili modal tetap (fixed capital) dengan hak pengelola, mengawasi manajemen dan hak suara dalam mengambil keputusan. Sedangkan penyertaan mudharabah (participation share) adalah mewakili modal kerja dengan hak atas modal dan keuangan tersebut, tetapi tanpa hak suara, hak pengawasan atau hak pengelolaan, kedua: sekuritas hutang (debt securation) atau penerbitan surat utang yang timbul atas transaksi jual beli atau merupakan sumber pendanaan bagi perusahaan, ketiga: sekuritas modal, sekuritas ini merupakan emisi surat berharga oleh perusahaan emiten yang telah terdaftar dalam pasar modal syari’ah dalam bentuk saham. Sekuritas modal ini juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang sahamnya dimiliki secara terbatas (non go publik) dengan mengeluarkan saham atau membeli saham.

Sehubungan dengan hal di atas, maka efek-efek yang diperdagangkan dalam pasar modal syari’ah hanya yang memenuhi kriteria syari’ah seperti saham syari’ah, obligasi syari’ah, dan reksadana syari’ah. Untuk menghasilkan instrument yang benar-benar sesuai dengan syari’ah, telah dilakukan upaya-upaya rekonstruksi terhadap surat berharga, diantaranya, pertama: penghapusan bunga yang tetap dan mengalihkannya ke surat investasi yang ikut serta daam keuntungan dan dalam kerugian serta tunduk pada kaidah al-ghummu bi al-ghumm(keuntungan/penghasilan itu berimbang dengan kerugian yang ditanggung), kedua: penghapusan syarat jaminan atas kembalinya harga obligasi dan bunganya sehingga menjadi seperti saham biasa, ketiga: pengalihan obligasi ke saham biasa. Berdasarkan ketentuan, maka diterbitkanlah instrumen pasar modal syari’ah dengan prinsip muqaradah/mudharab funds dan muraqadhah/mudharabah bonds (obligasi muqaradah/mudharabah)..

Adapun instrumen yang diharamkan dalam pasar modal syari’ah sebagai berikut:

1. Preffered Stock (saham istimewa).

Saham istimewa adalah saham yang memberikan hak lebih besar daripada saham biasa dalam dividen pada waktu perseroan dilikuidasi. Karakteristik saham preference : (a) hak utama atas dividen; (b) hak utama atas aktiva; (c) penghasilan tetap; (d) jangka waktu tidak terbatas, dan (e) tidak punya hak suara.

Alasan diharamkannya saham ini karena[9]:

  1. Adanya keuntungan yang bersifat tetap (pre-determined revenue), hal ini masuk dalam kategori riba.
  2. Pemilik saham prefence diperlakukan secara istimewa terutama pada saat likuiditasi, hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan.

2. Forward Contract.

Forward contract merupakan salah satu jenis transaksi yang diharamkan karena bertentangan dengan syari’ah. Forward contract merupakan bentuk jual beli hutang (dayn bi dayn/ debt to debt) yang di dalamnya terdapat unsur riba, sedangkan transaksinya (jual beli) dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo.

  1. Option

Option merupakan transaksi yang tidak disertai dengan underlying asset atau real asset, atau dengan kata lain objek yang ditransaksikan tidak dimiliki oleh penjual. Option termasuk dalam kategori gharar (penipuan/spekulasi) dan maysir (judi). Tetapi jika transaksi option merupakan representasi dari nilai intangible asset, maka dianggap sebagai nilai dari real asset dan dapat dibenarkan menurut syari’ah.

Karakteristik transaksi option adalah:

  1. Akad yang terjadi pada hak memilih saja dan objeknya bukan surat berharga.
  2. Pada umumnya kesepakatan jual beli tersebut tidak terlaksana, tapi diselesaikan dengan perolehan pembeli atas optionnya atau penjual atas perbedaan harga.
  3. Transaksinya disertai spekulasi atas naiknya harga pada keadaan ia membeli dan spekulasi atas turunnya harga pada saat ia menjual
  4. Berlangsungnya peredaran hak memilih/transaksi option kembali dengan mencakup muamalah formalitas.
  5. Orang yang menjual surat berharga umumnya tidak memiliki barang tersebut pada waktu akad.

VII. Perkembangan Pasar Modal Syari’ah Indonesia

Melihat perkembangan pasar Modal Syari’ah di Indonesia sampai pertengahan Juli 2007 ini menunjukkan prospek yang sangat menggembirakan. Pengukuran secara keseluruhan dengan menggunakan sharve index, kinerja saham syari’ah yang beroperasi di pasar modal syari’ah yang konsisten masih lebih baik dibandingkan dengan kinerja saham syari’ah yang tidak konsisten. Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa saham-saham yang termasuk dalam kelompok JII memiliki kinerja yang lebih baik dalam hal return yang diberikan dan dari prinsip resiko relatif lebih rendah dibandingkan dengan saham-saham kelompok non JII.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kinerja pasar modal syari’ah yang selama ini cukup baik maka harus dipertahankan, sebab fungsi dan keberadaannya sangat dipelukan. Menurut Metwally[10] fungsi dari keberadaan pasar modal syari’ah yaitu pertama: memungkinkan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan, kedua: memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas, ketiga: memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya, keempat: memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional, kelima: memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham.

Menurut Hedi Sudarsono[11] ada sejumlah kendala dalam melaksanakan pengembangan pasar modal syaria’ah antara lain: pertama: belum ada ketentuan yang menjadi ligimitasi pasar modal syari’ah dari BAPEPAM atau pemerintah misalnya undang-undang. Perkembangan keberadaan pasar modal syari’ah saat ini merupakan gambaran bagaimana legalitas yang diberikan Bapepam dan pemerintah lebih tergantung dari “permintaan” pelaku pasar yang menginginkan keberadaan pasar modal syari’ah., kedua: selama ini pasar modal syari’ah lebih populer sebagai sebuah wacana dimana banyak bicara tentang bagaimana pasar modal disyari’atkan. Dimana selama ini praktek pasar modal tidak bisa dipisahkan dari riba, maysir dan gharar, bagaimana memisahkan dari ketiganya dari pasar modal ketiga: sosialisasi instrumen syari’ah di pasar modal perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya praktisi dan akademisi. Praktisi dapat menjelaskan keberadaan pasar modal secara pragmatis sedangkan akademisi bisa menjelaskan secara ilmiah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Heri Sudarsono[12] juga menyebutkan beberapa strategi yang diperlukan dalam mengembangkan pasar modal syari’ah, yaitu pertama: Keluarnya Undang-Undang Pasar Modal Syari’ah sangat diperlukan guna mendukung segala investasi yang dilakukan oleh orang Islam agar tidak bercampur dengan riba, maysir dan gharar. Setidak-tidaknya perlu dipikirkan cara untuk mendorong keluarnya legitimasi dari Bapepam dan pemerintah, kedua: perlu keaktifan dari pelaku bisnis muslim untuk membentuk kehidupan ekonomi yang Islami. Hal ini guna memotivasi meningkatkan image pelaku pasar terhadap keberadaan instrumen pasar modal yang sesuai dengan syari’ah, ketiga: diperlukan rencana jangka pendek maupun jangka panjang oleh Bapepam untuk mengakomodir perkembangan instrumen-instrumen syari’ah dalam pasar modal. Sekaligus merencanakan keberadaan pasar modal syari’ah di tanah air, keempat: diperlukan kajian-kajian ilmiah mengenai pasar modal syari’ah.

Transaksi produk maupun industri pasar modal dan pasar uang syari’ah relatif masih sangat baru yang beroperasi di pasar modal Indonesia. Sehingga transaksi dan produknya pun masih terbatas dan masih mencari bentuk dan legalitas dari aparat yang berwenang dan para pakar hukum Islam Indoensia. Oleh karena itu, langkah-langkah sosialisasi perlu dilakukan guna membangun pemahaman akan keberadaan pasar modal syari’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat dewasa ini. Keterlibatan para praktisi, akademisi dan ulama sangat diperlukan dalam usaha membangun pasar modal dan uang yang berbasi syari’ah.

PENUTUP

Demikianlah beberapa hal tentang Pasar Modal Syari’ah, oleh karena kurangnya literatur dan terbatas waktu penulisan maka makalah yang sederhana ini tidak luput dari kekurangan. Harapan penulis, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.

Amin yarabbal alamin

DAFTAR PUSTAKA

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, penerbit Ekonisa, Fak Hukum UII Yogyakarta, 2007

Habib Nazir dkk, Ensiklopedi Ekenomi dan Perbankan Syari’ah, Kaki Langit, Cibiru Bandung, 2004

Muhammad Firdaus dkk, Sistem Kerja Pasar Modal Syari’ah , Renaisan, Jakarta 2005

Sofyan Syafri Harahap, Menuju Perumusan Teori Akutansi Islam, Pustaka Quantum, Jakarta, 2001

Pontjowinoto, Investasi Keuangan Syari’ah, Makalah Seminar

Dan beberapa dokumen lain yang ada sangkut pautnya dengan judul makalah ini.


[1] Muhammad Firdaus dkk, Sistem Kerja Pasar Modal Syari’ah , Renaisan, Jakarta 2005, hal. 12-13

[2] Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, penerbit Ekonisa, Fak Hukum UII Yogyakarta, 2007. Hal. 189-191

[3] Ibid

[4] Ibid, hal. 192-193

[5] Sofyan Syafri Harahap, Menuju Perumusan Teori Akutansi Islam, Pustaka Quantum, Jakarta, 2001. Hal. 287-288

[6] Ibid

d, hal. 187

[7] Habib Nazir dkk, Ensiklopedi Ekenomi dan Perbankan Syari’ah, Kaki LAngit, Cibiru BAndung, 2004

[8] Pontjowinoto, Investasi Keuangan Syari’ah, Makalah Seminar Investasi Pasar Modal Menurut Syari’ah, Jakarta, 9 Agustus 2001.

[9] Dr. Muhammad firdaus NH, Sistem Kerja Pasar Modal Syari’ah, Renaisan, Oktober 2005

[10] Metwally, Op.cit, hal. 8

[11] Heri Sudarsono, Opcit, hal. 196-197

[12] Ibid, hal. 211-212

About these ads
  1. 4 Juli 2014 pukul 14:22

    Good post. I learn something totally new and challenging on websites I stumbleupon everyday.
    It’s always exciting to read articles from other authors and use a little something from
    their websites.

  2. 19 Juli 2013 pukul 00:23

    You’ve really written a very good quality article here.
    Thank you very much for sharing.

  3. 7 Mei 2013 pukul 04:00

    I have been browsing online more than 4 hours today, yet I never found
    any interesting article like yours. It’s pretty worth enough for me. In my view, if all site owners and bloggers made good content as you did, the web will be a lot more useful than ever before.

  4. Rinaldi
    3 Januari 2011 pukul 12:38

    Nice artikel ndi…

    Buat yg di atas, jual-beli tidak riil dalam artian apa nih ??? karena online kah ??? kalo gitu ga boleh dunc jual beli online :D

    Kalo menurut gw, itu hanya jual beli kepemilikan modal. Sama saja dengan jual beli motor. Jadi boleh2 saja. Selama tidak ada disyaratkan untuk membeli kembali setelah menjual.

  5. Adorable Uii
    18 Desember 2010 pukul 03:03

    Pasar uang itu diharamkan kan? karena dalam hukum Islam itu termasuk jual-beli tidak riil (maya), tetapi kok bisa ada pasar uang syariah???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: